kurikulum merdeka belajar

Kurikulum Merdeka Belajar yang Sering Disalahpahami

Kurikulum merdeka belajar belakangan ini sering jadi bahan obrolan di sekolah, di grup orang tua, sampai di komunitas guru. Aku memahami kenapa Kamu bisa merasa bingung, karena istilahnya populer, tetapi pemahaman yang beredar tidak selalu sama. Akibatnya, ada yang menilai kurikulum ini terlalu bebas, ada juga yang menganggap justru lebih rumit daripada sebelumnya.

Di artikel ini Aku mengajak Kamu melihat kurikulum merdeka belajar dengan cara yang lebih jernih. Aku akan membahas bagian yang paling sering disalahpahami, lalu Aku jelaskan maksud resminya, dan bagaimana Kamu bisa menilai penerapannya secara realistis di kelas maupun di sekolah.

Apa itu Kurikulum Merdeka Belajar

Secara ringkas, Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam, kontennya dioptimalkan agar peserta didik punya waktu cukup untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru juga diberi keleluasaan memilih perangkat ajar agar pembelajaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.

Di dalam kerangka penerapannya, pemerintah menetapkan Capaian Pembelajaran sebagai rujukan utama. Capaian Pembelajaran atau CP adalah kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik di akhir setiap fase.Artinya, fokus utamanya bukan menuntaskan daftar materi sebanyak mungkin, melainkan memastikan kompetensi penting benar benar terbentuk sesuai fase.

Mengapa Sering Disalahpahami

Kesalahpahaman biasanya muncul karena dua hal. Pertama, orang mencampur adukkan istilah merdeka belajar sebagai gagasan besar dengan Kurikulum Merdeka sebagai dokumen dan struktur kerja. Kedua, implementasi di lapangan bisa beragam karena sekolah memang diberi ruang untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks dan kebutuhan murid.

Ruang penyesuaian ini sering dianggap sebagai ketidakjelasan aturan. Padahal, panduan pembelajaran dan asesmen menjelaskan bahwa perencanaan pembelajaran berangkat dari menganalisis CP, merumuskan tujuan pembelajaran, menyusun alur tujuan pembelajaran, lalu merancang asesmen sebagai satu siklus yang saling memberi informasi. Jadi tetap ada pijakan dan alurnya.

1.  Bebas Tanpa Arah

Sebagian orang mendengar kata merdeka lalu menyimpulkan guru bebas mengajar apa saja. Aku paham kenapa kesimpulan itu muncul, tetapi sebenarnya yang dimaksud adalah fleksibilitas dalam cara mencapai tujuan, bukan kebebasan tanpa tujuan.

Yang ditetapkan pemerintah adalah rujukan capaian di akhir fase melalui CP. Yang fleksibel adalah strategi, perangkat ajar, urutan kegiatan, serta penyesuaian konteks kelas agar murid bisa mencapai kompetensi itu dengan lebih bermakna.

Contoh sederhana di kelas

Misalnya, CP menuntut murid mampu menalar dan memecahkan masalah pada topik tertentu. Guru bisa memilih pendekatan proyek, diskusi, eksperimen, atau latihan bertahap. Selama tujuan kompetensi tercapai dan pembelajaran dirancang secara sadar, itu sejalan dengan kurikulum merdeka belajar.

2. Ganti Istilah

Ada juga yang merasa kurikulum merdeka belajar hanya mengganti nama tanpa perubahan bermakna. Menurut Aku, perubahan paling terasa justru pada cara melihat target belajar.

Kurikulum Merdeka menekankan konten yang lebih optimal agar murid punya waktu mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Jika Kamu terbiasa mengejar banyak topik dengan tempo cepat, pergeseran ini akan terasa besar, karena Kamu diminta memilih mana yang benar benar esensial untuk diperdalam.

CP didefinisikan sebagai kompetensi yang harus dicapai di akhir fase. Ini mendorong perencanaan yang lebih bertahap, lebih realistis terhadap perkembangan murid, dan lebih mengutamakan bukti belajar daripada sekadar selesai bab.

3. Salah Paham Projek Pancasila itu Tambahan Beban

Banyak guru dan sekolah merasa projek penguatan profil pelajar Pancasila hanya menambah pekerjaan. Aku tidak menutup mata, beban bisa terasa meningkat bila sekolah belum rapi membagi waktu, peran, dan perangkat. Tetapi dari sisi desain, projek ini punya karakter yang berbeda.

Di laman penjelasan Kurikulum Merdeka, disebutkan projek untuk menguatkan profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu dan tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran.

Maknanya, projek seharusnya menjadi ruang latihan karakter dan kompetensi lintas disiplin, bukan ulangan terselubung dari mapel.

Agar projek tidak jadi beban, Aku biasanya menyarankan Kamu melihatnya sebagai kolaborasi sekolah, bukan tugas per guru mapel. Tentukan satu tema, bagi peran fasilitator, siapkan rubrik sederhana, lalu fokus pada proses dan refleksi murid. Karena projek tidak mengejar CP mapel, Kamu tidak perlu memaksakan materi pelajaran masuk semua.

4. Salah Paham Asesmen

Dalam kurikulum merdeka belajar, asesmen sering dianggap makin kompleks. Padahal ide utamanya adalah asesmen sebagai bagian dari siklus pembelajaran, bukan sekadar penilaian akhir.

Panduan pembelajaran dan asesmen menjelaskan pembelajaran dan asesmen adalah satu siklus, dan asesmen yang diutamakan adalah asesmen formatif yang berorientasi pada perkembangan kompetensi murid.

Jadi, yang penting bukan banyaknya instrumen, tetapi apakah Kamu mendapatkan bukti belajar yang cukup untuk menyesuaikan langkah mengajar.

Kamu bisa memakai pertanyaan pemantik, exit ticket singkat, cek pemahaman lewat diskusi, atau tugas kecil yang langsung menunjukkan miskonsepsi. Bila bukti belajar itu membantu Kamu memperbaiki pembelajaran, berarti Kamu sudah menjalankan inti asesmen formatif.

5. Guru Harus Membuat Semuanya dari Nol

Ada anggapan bahwa kurikulum merdeka belajar membuat guru wajib menulis modul dan perangkat ajar lengkap sendiri. Aku setuju ini bikin cemas, apalagi untuk guru yang jadwalnya padat. Namun, konsep keleluasaan bukan berarti semuanya harus dibuat sendiri.

Penjelasan resmi menyebut guru punya keleluasaan memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Keleluasaan berarti Kamu boleh memilih, mengadaptasi, dan menyusun seperlunya, bukan wajib menciptakan seluruh perangkat dari awal.

Strategi praktisnya begini. Ambil perangkat ajar yang sudah tersedia, lalu Kamu ubah tiga hal saja: tujuan pembelajaran yang selaras CP, aktivitas inti yang sesuai kondisi kelas, dan asesmen formatif sederhana untuk memantau kemajuan. Dengan cara ini, Kamu tetap selaras dengan kurikulum merdeka belajar tanpa terbebani administrasi.

6. Salah Paham Untuk Semua Sekolah

Karena implementasinya beragam, muncul kesan bahwa standar kurikulum merdeka belajar berbeda beda dan tidak adil. Yang sebenarnya terjadi adalah standar kompetensi rujukan ada, tetapi cara mencapai dan bentuk pengorganisasian pembelajaran dapat disesuaikan dengan konteks.

Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik. Ini penting di Indonesia karena kondisi sekolah sangat beragam.

Bagi Aku, implementasi yang sehat terlihat dari tiga hal yaitu CP dipakai sebagai rujukan, pembelajaran memberi waktu untuk pendalaman konsep, dan asesmen formatif dipakai untuk memperbaiki proses. ika tiga ini ada, variasi pendekatan antar sekolah masih wajar.

Cara Menilai Penerapan di Sekolah

Kalau Kamu orang tua, guru baru, atau pengelola sekolah, Kamu bisa menilai penerapan kurikulum merdeka belajar tanpa harus tenggelam dalam istilah.

1. Pertanyaan kunci untuk guru dan sekolah

Pertama, apakah tujuan belajar di kelas mengarah ke CP fase, bukan sekadar daftar materi. CP adalah kompetensi di akhir fase, jadi seharusnya menjadi pegangan.
Kedua, apakah pembelajaran memberi ruang pendalaman konsep, bukan sekadar mengejar banyak topik.
Ketiga, apakah asesmen formatif dipakai untuk menyesuaikan pembelajaran, bukan hanya untuk memberi angka.

2. Langkah kecil yang bisa Kamu mulai

Jika Kamu guru, Aku sarankan mulai dari satu unit pembelajaran. Pilih CP yang relevan, rumuskan tujuan pembelajaran yang spesifik, rancang aktivitas inti yang membuat murid aktif, lalu siapkan dua bukti asesmen formatif sederhana. Setelah itu refleksikan hasilnya dan perbaiki di pertemuan berikutnya. Pola ini sejalan dengan panduan pembelajaran dan asesmen yang menekankan siklus.

Kurikulum merdeka belajar sering disalahpahami karena istilahnya populer, penerapannya beragam, dan perubahan cara berpikirnya cukup besar. Tetapi bila Kamu kembali pada rujukan resminya, inti kurikulum ini jelas yaitu pembelajaran intrakurikuler yang beragam, fokus pada pendalaman konsep dan penguatan kompetensi, guru diberi keleluasaan memilih perangkat ajar, CP menjadi rujukan kompetensi akhir fase, dan asesmen formatif diutamakan sebagai bagian dari siklus pembelajaran.

Kalau Kamu ingin, Aku bisa bantu Kamu membuat kerangka artikel turunan yang lebih spesifik, misalnya untuk guru SD, untuk orang tua, atau untuk kepala sekolah, tetap dengan keyword kurikulum merdeka belajar dan tetap mengikuti aturan heading yang sama.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *