Tantangan Kurikulum Merdeka

Tantangan Kurikulum Merdeka yang Jarang Dibicarakan

Tantangan Kurikulum Merdeka sering dibahas dari sisi yang terlihat, seperti perubahan perangkat ajar atau penyesuaian metode mengajar. Namun Aku melihat ada tantangan yang lebih sunyi, yaitu hal hal kecil yang terjadi setiap hari di kelas dan di ruang guru, tetapi dampaknya besar terhadap kualitas pembelajaran.

Tantangan ini biasanya tidak viral, tidak masuk poster sosialisasi, tetapi menjadi penentu apakah Kurikulum Merdeka benar benar berjalan atau hanya sekadar berganti istilah. Di artikel ini Aku mengajak Kamu membahas Tantangan Kurikulum Merdeka yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Aku akan mengurai tantangan yang muncul dari sisi desain kurikulum yang lebih ramping dan berpusat pada murid, tuntutan penguatan karakter, sampai kenyataan kesiapan guru, waktu, dan fasilitas yang tidak selalu sama di tiap sekolah. Kurikulum Merdeka memang memberi ruang transformasi pembelajaran, tetapi ruang itu perlu ditopang sistem yang kuat agar tidak menjadi beban baru.

1. Tantangan Waktu

Salah satu Tantangan Kurikulum Merdeka yang paling terasa adalah waktu. Di atas kertas, materi dibuat lebih ramping agar guru punya ruang untuk pembelajaran yang lebih berpusat pada murid dan pengembangan karakter. Tetapi di lapangan, ruang waktu itu sering habis karena penyesuaian administrasi, koordinasi projek, dan kebutuhan remedial yang tetap harus jalan.

Ketika sekolah menjalankan projek penguatan profil pelajar Pancasila, guru butuh rapat lintas mapel, menyusun modul projek, mengatur jadwal, dan menyiapkan asesmen projek. Modul P5 sendiri dipahami sebagai dokumen berisi tujuan, langkah, media, dan asesmen, dan pendidik diberi keleluasaan membuat, memilih, serta memodifikasi modul sesuai konteks. Keleluasaan ini bagus, tetapi kalau tim belum terbiasa, koordinasi memakan waktu lebih besar dari perkiraan.

Kurikulum Merdeka memberi peluang pendalaman konsep, tetapi peluang itu baru terasa jika sekolah berhasil merapikan ritme belajar. Jika tidak, kelas tetap dikejar target, hanya saja dengan format baru. Akhirnya, pendalaman konsep yang dijanjikan justru tidak terjadi.

2. Tantangan Kapasitas Guru

Banyak diskusi berhenti pada kalimat guru harus adaptif. Aku setuju, tetapi Tantangan Kurikulum Merdeka yang jarang dibicarakan adalah kesenjangan kapasitas guru antar sekolah dan bahkan antar guru dalam satu sekolah.

Kurikulum Merdeka menguatkan peran asesmen, termasuk asesmen formatif dan asesmen diagnostik. Sejumlah kajian menunjukkan guru mengalami kesulitan dalam implementasi asesmen, mulai dari pemahaman konsep sampai penerapan di kelas. Akibatnya, ada guru yang sudah nyaman memakai asesmen untuk memperbaiki pembelajaran, tetapi ada juga yang masih menilai asesmen sebagai formalitas.

Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran berpusat pada murid, yang dalam praktik sering diterjemahkan sebagai diferensiasi. Tantangannya, diferensiasi butuh kemampuan memetakan kebutuhan murid dan menyiapkan variasi aktivitas. Sejumlah kajian literatur juga menyebut perencanaan pembelajaran berdiferensiasi dan penguatan asesmen formatif sebagai tantangan utama.

3. Tantangan P5

Banyak orang mengira tantangan P5 hanya soal menentukan tema. Padahal, Tantangan Kurikulum Merdeka yang jarang dibicarakan adalah bagaimana P5 menjaga kualitas tanpa berubah menjadi kegiatan seremonial.

Penjelasan resmi menyebut projek P5 tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran.  Ini membuat projek lebih fleksibel, tetapi juga membuka risiko projek menjadi aktivitas ramai tanpa arah kompetensi yang jelas. Jika tujuan projek tidak dirumuskan tajam, murid terlihat sibuk tetapi pembelajaran karakternya tipis.

Kajian tentang tantangan guru dalam penilaian P5 menyoroti kendala seperti kurangnya pemahaman, kesiapan, keterbatasan waktu, dan sarana. Ini sering terjadi karena guru mencoba menilai terlalu banyak aspek sekaligus, atau rubriknya tidak sederhana.

4. Tantangan Administrasi

Kurikulum Merdeka sering dipromosikan sebagai lebih fleksibel. Aku percaya itu benar pada level desain, tetapi Tantangan Kurikulum Merdeka yang jarang dibicarakan adalah beban administrasi transisi.

Saat sekolah berpindah kurikulum, guru perlu menyelaraskan CP, ATP, modul ajar, asesmen, dan pelaporan. Di masa awal, banyak guru membuat dokumen ganda karena takut salah format. Akibatnya, energi habis untuk merapikan berkas, bukan memperbaiki kualitas interaksi belajar.

Ini bagian yang sensitif, tetapi penting. Dokumen bisa rapi karena mengikuti template, namun pembelajaran di kelas belum berubah. Tantangannya bukan membuat dokumen, melainkan memastikan dokumen membantu keputusan mengajar yang lebih baik.

5. Tantangan Teknologi

Sebagian sekolah terbantu dengan platform digital, tetapi ada Tantangan Kurikulum Merdeka yang jarang dibicarakan, yaitu ketimpangan akses dan literasi digital yang membuat dukungan teknologi tidak merata.

Sejumlah kajian membahas hambatan pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar, mulai dari keterbatasan akses, kebiasaan teknologi, hingga kendala teknis. Bahkan ada temuan bahwa guru yang belum terbiasa teknologi menghadapi dua beban sekaligus, belajar teknologi dan memahami kurikulum dalam waktu bersamaan.

Ketika materi referensi dan pelatihan banyak berbasis daring, sekolah yang koneksinya lemah tertinggal. Ini bukan salah guru, tetapi realitas sistem. Akibatnya, ada sekolah yang cepat berkembang, sementara sekolah lain berjalan pelan walau niatnya sama.

6. Tantangan Budaya Belajar

Aku sering melihat tantangan muncul bukan karena kurikulumnya, tetapi karena ekspektasi lama yang masih kuat.

Kurikulum Merdeka mendorong murid aktif, tetapi murid yang terbiasa pasif butuh waktu untuk beradaptasi. Jika guru tidak sabar, pembelajaran aktif berubah menjadi gaduh tanpa arah.

Ketika sekolah menekankan proses, projek, dan refleksi, sebagian orang tua tetap bertanya nilai akhir. Tantangannya adalah komunikasi. Sekolah perlu menjelaskan bukti belajar selain angka, tanpa membuat orang tua merasa ditinggalkan.

7. Tantangan Evaluasi

Tantangan Kurikulum Merdeka bukan hanya implementasi, tetapi juga evaluasi. Banyak sekolah menjalankan program, tetapi tidak punya sistem untuk mengecek apakah perubahan benar benar berdampak.

Sekolah kadang mengumpulkan banyak nilai, tetapi tidak menganalisis pola miskonsepsi atau kebutuhan dukungan. Padahal tantangan utama adalah mengubah data menjadi tindakan, misalnya perbaikan strategi mengajar atau dukungan untuk murid tertentu.

Jika monitoring hanya mengecek apakah dokumen ada, maka sekolah akan mengejar kepatuhan. Yang lebih penting adalah mengecek kualitas pembelajaran, misalnya seberapa efektif asesmen formatif, apakah diferensiasi berjalan, dan apakah projek P5 punya refleksi yang kuat.

Cara Menghadapi Tantangan ini

Aku tidak ingin artikel ini membuat Kamu pesimis. Tantangan Kurikulum Merdeka yang jarang dibicarakan justru berguna sebagai peta, agar Kamu bisa memilih langkah yang paling berdampak.

  • Mulai dari satu perubahan kecil yang konsisten: Jika Kamu guru, pilih satu fokus dulu. Contohnya memperbaiki asesmen formatif mingguan atau memperjelas tujuan projek P5. Tantangan asesmen memang nyata di lapangan, jadi perbaikan kecil yang konsisten sering lebih efektif daripada perubahan besar yang tidak stabil.
  • Buat standar sederhana di tingkat sekolah: Jika Kamu bagian dari manajemen sekolah, buat standar minimum yang tidak memberatkan. Misalnya format rubrik projek yang seragam, jadwal refleksi guru yang rutin, dan panduan penggunaan platform digital yang bertahap, karena hambatan PMM sering terkait kesiapan dan akses.
  • Utamakan kualitas belajar bukan kelengkapan berkas: Kurikulum Merdeka dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi semua murid. Jadi pusatnya tetap pembelajaran. Jika Kamu perlu memilih prioritas, pilih yang paling dekat dengan pengalaman belajar murid.

Tantangan Kurikulum Merdeka yang jarang dibicarakan biasanya bukan soal istilah, tetapi soal eksekusi sehari hari. Waktu yang tersedot koordinasi, kesenjangan literasi asesmen dan diferensiasi, kualitas P5 yang rawan seremonial, beban administrasi transisi, ketimpangan teknologi dan akses PMM, sampai kepemimpinan sekolah yang menentukan budaya refleksi.

Kabar baiknya, tantangan ini bisa dikelola jika Kamu fokus pada langkah kecil yang konsisten, memperkuat komunitas belajar, menyederhanakan standar, dan selalu kembali pada tujuan utama Kurikulum Merdeka yaitu pembelajaran berpusat pada murid dengan ruang pendalaman dan penguatan karakter.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *